Transformasi Cubeia: Penerapan AI dalam Pengembangan Kode
Perusahaan iGaming Cubeia, yang berbasis di Stockholm, sedang menjalani transformasi besar dengan tujuan mengubah proses pembuatan kode mereka menggunakan kecerdasan buatan (AI). Langkah ini diambil untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas pengembangan fitur baru. Upaya ini dilandasi oleh pengamatan COO Stefan Grenstad saat menganalisis laporan kinerja yang menunjukkan bahwa pengembang tingkat menengah dapat memberikan hasil luar biasa berkat dukungan AI.
Pada sektor game yang serba cepat, AI telah menjadi komponen penting, mulai dari chatbot interaktif hingga pengembangan konten game. Cubeia menargetkan untuk mengintegrasikan AI dalam proses pembuatan kode mereka sepenuhnya, dengan tujuan menyelesaikan transisi ini pada bulan Agustus. Temuan ini datang saat Grenstad melihat bahwa pengembang menengah mampu memberikan kontribusi signifikan. "AI membuat pencapaian ini mungkin," ujarnya.
Memperbaiki Sistem yang Ada
Grenstad menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar upaya mengurangi tenaga kerja. Justru, fokusnya adalah untuk meningkatkan fleksibilitas dan responsivitas pengembangan. Sebelumnya, proses pengembangan dibatasi oleh sprint dua minggu yang kerap kali menyerupai proses produksi massal. "Kami mengelola backlog yang dikendalikan oleh pemilik produk, namun seringkali tidak ada cukup waktu untuk revisi sebelum produksi," jelasnya.
Dengan bantuan AI, proses tersebut dapat dipercepat secara drastis. Jika biasanya sebuah fitur baru memerlukan waktu dua minggu, kini pengerjaannya bisa diselesaikan dalam sehari, dengan beberapa iterasi dilakukan dalam waktu yang sama. "Kami bisa melakukan tiga hingga empat iterasi dalam satu hari," tambah Grenstad. Untuk meyakinkan tim pengembang, Grenstad menekankan pentingnya beradaptasi agar tetap kompetitif di pasar.
Intervensi Manusia Tetap Diperlukan
Meskipun AI memegang peranan besar, intervensi manusia dalam proses ini masih diperlukan, terutama dalam tahap peninjauan kode. "Peninjauan sangat penting untuk memastikan AI tidak membuat asumsi keliru," ujar Grenstad. Menurutnya, kepercayaan terhadap AI akan meningkat seiring waktu, namun untuk saat ini, peninjauan tetap diperlukan.
CPO Ernander menambahkan bahwa tantangan terbesar adalah memastikan kode yang dihasilkan AI dapat beroperasi selaras dengan kode lama yang telah ada. Diskusi mengenai ruang lingkup dan definisi detail dalam pengembangan menjadi lebih krusial dibandingkan proses penulisan kodenya sendiri. Begitu keselarasan ini tercapai, diharapkan waktu peluncuran produk ke pasar dapat dipercepat secara signifikan.